Posted by : suarezsaga Sabtu, 14 Februari 2015

Minggu sore, hujan, aku memilih untuk berteduh, mengingat ini adalah hujan deras, kalo ndak deras berarti gerimis. Aku memilih sebuah teras ruko yang masih sepi peneduh ( orang yang berteduh ), karena sudah 10 detik aku menyusuri kiri jalan yang tersambung ke teras ruko rata-rata sudah penuh oleh orang-orang dengan wajah kusam. Pandangannya ada yang menengadah ( mungkin sedang berpikir bagaimana air hujan bisa datang ), ada yang memandang kosong ke jalan ( melamun mikirin kesialan karena tidak membawa mantel ), ada yang berdiri melihat orang-orang perkasa yang masih menerobos hujan ( termasuk saya yang menerobos, tapi nggak lama setelah itu aku nyerah....), bahkan ada juga yang peluk-pelukan, pegangan tangan, mulut dimonyongin, bahkan SELFIE ! Tidak berperikejombloan bagi orang-orang yang sedang mencari keteduhan di sana. Siapa tau di antara mereka ada yang merasa terdiskriminasi melihat pemandangan itu dan memilih untuk menerobos hujan sambil menangis ( karena hujan jadi nangisnya nggak ketahuan ), terus pulang-pulang masuk angin, nggak ada yang ngurusin, demam, and so on.......
Oke, itu tadi khayalanku selama melihat tiap tetes hujan yang jatuh ke cekungan aspal di depan warung burjo tempatku memilih berteduh. Aku berasumsi bahwa cekungan itu terbentuk pasti sudah puluhan tahun oleh tiap tetes hujan yang selalu menusuk-nusuknya. Aspal itu akhirnya membentuk sebuah cekungan yang menjadi genangan dan menampung setiap tetesan yang jatuh ke dalamnya. Ini disebut dengan erosi.
Akang burjo sudah akrab banget. Ia tidak segan langsung menyodorkan es teh, padahal sedang menggigil malah dikasi es teh. Akrab bisa jadi membuat orang semena-mena terhadap kita, walaupun yah karena hal itu dianggap mampu mencairkan suasana, tapi es teh tidak bisa mencairkan suasana, mencairkan lendir di dalam hidung mungkin iya ( Baca : PILEK ! ).
"Ada koran kang ?", aku bertanya sambil menyeruput kopi panas ( es teh-nya nggak jadi... ).
"Wah, tadi ada Res...", jawabnya dengan logat Sunda yang kental.
"Tadi ? Kalo sekarang ada ?", tanyaku tajam, sambil tangan kanan mulai melatih buku-buku jarinya cara mencabik-cabik.
"Tadi bocor, eh korannya ketumpahan jadi basah... Udah jadi bubur koran tuh..."
"Oh, menu baru ya ? Udah lama nggak jualan burjo jadi jualan Burkor ?"
"Itu namanya I-N-O-V-A-S-I.... Inovasi !"
"Inovasi gundulmu Kang !", aku berseru kepada Akang yang kebetulan memang gundul.
Cukup lama aku menunggu hujan reda, kira-kira sudah 20 menit dan masih deras saja. Malah sekarang diperparah dengan kehadiran guntur. Kilatnya juga bareng, kan sudah 1 paket. Tiba-tiba seperti bunyi motor, ada sebuah motor yang mampir ke burjo, dia sudah basah kuyup, malah mampir. Usut punya usut, ternyata seorang teman, sebut saja ABCDEFG. Ia langsung duduk di sampingku ketika sudah selesai parkir motornya dengan baik dan mematikan mesin. Dia menyapa, aku juga menyapa. Dia bertanya, aku juga bertanya. Dia jungkir balik, aku ndak ikut jungkir balik, cuma berharap dia bisa selamat.
Kami berbincang sembari minum kopi panas, gorengan dingin, rokok panas ( aku ndak merokok, dia aja yang merokok ), dan semua yang ada di burjo. Bahkan kalo ada Pizza panas aku makan juga.
Perbincangan kami sampailah pada tema : KAPAN SELESAI. Itu mungkin tema yang sangat dihindari oleh para mahasiswa tingkat akhir. Aku sudah mengalami pertanyaan ini dan cukup membuat pengen nonjok sama yang nanya. Pertanyaan ini saingan dengan pertanyaan : KAPAN NYUSUL ? ( If you know what I mean ). Perbincangan ini bermula begini.....
"Kapan selesai ?", aku bertanya padanya ( tapi nggak ditonjok ).
"Ini sedang nyusun... Tinggal maju buat dijadikan telur dadar kok...", jawabnya.
"Oh, habis ini pulang kampung dong ?", aku tanya lagi.
"Nggaklah...", jawabnya agak judes...
"Emang mau ambil ke mana ?"
"Ke JKT aja..."
"Kenapa ndak mau balik ke kampung, masih banyak lo peluang kerja di sana..."
"Hmm... Nggak ah, pola pikir orang sana susah diubah, nanti aku ndak berkembang...."
"Ndak berkembang bagaimana ?"
"Yah taulah kau Res. Kalo kita punya skill kita sebaiknya coba diluar dulu cari pengalaman, nanti jika sudah dirasa cukup, barulah balik ke kampung..."
"Kapan cukupnya ?"
"Apanya ?"
"Pengalamannya tuh, kapan cukupnya ?"
"Ya sampai aku rasa benar-benar cukuplah..."
"Berarti kamu lebih memilih jalan yang berdesak-desakan daripada membuka jalan baru ?"
"Bisa dibilang gitu deh... Yang penting kita cari pengalaman dulu..."
"Oke...."
Hujan sudah mulai berhenti. Aku masih menyeruput kopi hitam itu. Tidak seenak kopi cap obor, tapi cukup untuk menghangatkan tubuh dan meredakan pusing. Obat pusingku cukup minum kopi dan semua terasa nyaman.
Temanku si ABCDEFG sudah pamit dan beranjak untuk pulang. Ia mengeluarkan selembar dua ribu rupiah dan memberikannya kepada Akang. Ia menginjak starter motor barunya dan memutar setang gas. Ia pergi menjauh dari warung burjo.
Perihal percakapan tadi membuatku merenung. Berbagai alasan kudengar dari mereka yang lebih memilih untuk berkembang di luar daripada di dalam. Mereka yang berada di luar pasti mempunyai pertimbangan yang sangat matang dan memiliki strategi yang baik, tapi ada juga yang merasa gengsi karena merasa "UDAH NANGGUNG". Tapi, ada satu alasan yang masih menjadi keraguan, yaitu jika bekerja di daerah sendiri tidak berkembang. Aku menangkap itu adalah maksudnya lingkungan kerja yang tidak memadai. Jika saja ada 100 orang yang berpikir begitu, maka daerah sendiri semakin tertinggal dari daerah lain. Jika sudah demikian, ketika ia kembali ke kampungnya untuk sekedar liburan dan melihat bahwa daerahnya tidak mengalami kemajuan seperti yang diharapkannya, ia mulai menyalahkan pemerintah yang membuatnya tidak berkembang. Andai saja 100 orang ber-skill ini mau kembali ke daerah masing-masing dan mengembangkan daerahnya sesuai dengan ide pemikirannya, maka tidak akan ada lagi saling menyalahkan. Uap air yang terangkat ke awan saja masih ingat untuk kembali dalam bentuk hujan dan mengembangkan pepohonan dan kehidupan di tanah tempat dia dibutuhkan. Jika kamu menunggu orang lain yang akan mengembangkan daerah sendiri tapi harus sesuai dengan pemikiranmu, maka siap-siap saja kamu hanya akan mengeluh dan mengumpat sepanjang waktu.
Aku menyeruput tetes terakhir dari kopi hitam ini. Tersenyum dan membayarnya. Aku pikir begitulah pemikiran sempit ini. Menjadi seperti uap air yang meninggalkan permukaan tanah menuju langit, membentuk kristal, dan menjadi air kembali untuk menjadi berkah dan berguna bagi tanah dan makhluk hidup. Aku pasang earphone, menekan tombol di iPod, dan mendengarkan senandung lagu Rhythm of The Rain oleh Dan Folgenberg.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Follow me @arezsaga

Iklan Duluuu... Silakan dilihat-lihat

Kicauan saye

Yang terperangkap di blog ini sudah

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

- Copyright © suarezsaga -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -