- Back to Home »
- #opini »
- Menjadi Jujur Bersama Teknologi Informasi
Posted by : suarezsaga
Selasa, 24 Oktober 2017
![]() |
| Sumber |
Baru tadi siang saya mendapatkan tautan berita yang dikirimkan oleh seorang teman. Tautan tersebut merujuk ke salah satu website berita ternama. Isi artikel daring tersebut berbunyi bahwa pembelian Bahan Bakar Minyak di SPBU bisa dilakukan dengan pembayaran elektronik. Teman saya nyeletuk, "Nah, kalo begini petugas di SPBU tidak bisa lagi memanfaatkan 10 rupiah, 20 rupiah, 50 rupiah untuk masuk uang sakunya. Bayangin aja Res, jika 1 orang yang mengisi minyak masih punya kembalian 50 Rupiah dan itu kan tidak ada dalam uang fisik, jadi dibulatkan saja. Dalam sehari ada 100 orang yang mengisi minyak dan kelebihan 50 rupiah, sudah dapat 5000 rupiah. Dan yang mengisi minyak dalam sehari bisa lebih dari seratus orang dan nilai kelebihannya pun bervariasi". Saya sebenarnya sudah tau ada oknum di SPBU yang tidak jujur, dan langkah pemerintah dengan menerapkan pembayaran elektronis ini ibarat "memaksa" mereka untuk menjadi jujur.
Mengenai ketidakjujuran ini, saya menjadi ingat artikel yang saya baca beberapa bulan yang lalu. Artikel itu berbunyi bahwa Pihak Kementrian menemukan kasus plagiasi disertasi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Kasus plagiasi tidak hanya baru-baru ini saja ditemukan, ternyata rekam jejak ini sudah sejak belasan tahun yang lalu !
Di era keterbukaan informasi, di mana batas-batas antara ruang privasi dan ruang publik hanya setipis asap, semuanya menjadi terbuka. Untuk kasus plagiasi saja, jika ingin memeriksa apakah suatu tulisan merupakan saduran tanpa pertanggung jawaban, teknologi informasi sudah menyediakan fasilitasnya. Inilah yang disebut bahwa dunia daring kita sudah memasuki Generasi Ketiga (Web 3.0).
Sekedar informasi, Web 3.0 adalah sebuah konsep di mana mesin memiliki kemampuan membaca Web sama seperti yang manusia dapat lakukan sekarang (pendapat Tim Berners-Lee). Dengan memiliki kemampuan ini, maka mesin dapat memandu manusia dalam menentukan arah kebijakan yang membuat sistem tetap di jalurnya. Arah teknologi informasi menjadi semakin memudahkan manusia dalam bertindak jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.
Data yang dimasukkan ke Clouds juga sudah harus jujur, karena diperkirakan di masa depan pembayaran dan semua transaksi akan dilakukan secara daring. Manusia tidak perlu lagi membawa dompet dengan ketebalan hingga melebihi batu bata, cukup dengan sebuah kartu yang terverifikasi dengan data diri.
Bagaimana menjadi jujur di dunia online mulai sekarang? Satu langkah kecil saja, gantilah nama akun media sosial Anda yang masih menggunakan "nama alay" menjadi nama lengkap Anda.
--FS--
