- Back to Home »
- Cerita Ringan »
- Serba Serbi Kuliah Di Luar Pulau
Posted by : suarezsaga
Rabu, 22 Januari 2014
1. Asal Daerah
Jadi, ceritanya ini waktu itu aku masih anak baru, maba, lugu, ingusan, pipis belum lurus, kurus banget kayak kurang gizi. Saat itu aku kenalan dengan teman baru, yang tentunya berasal dari daerah lain. And you know, aku jujur aja, aku waktu itu bangga banget bisa kenalan sama orang luar. Kenapa ? Karena saat itu aku belum mengalami keajaiban dunia maya, jadinya kenalan dengan orang baru dari luar pulau itu sangat membanggakan. Terjadilah percakapan di bawah ini, sebut saja temanku ini namanya Herp.
Herp ( H ) : "Halo, nama gue Herp... loe siapa ? ( pake logat Jekate )"
Gue ( G ) : "Halo juga, namaku Ares...(masih mempertahankan logat asli)
H : " Oh, asli mana ?"
G : "Kalimantan Barat..."
H : "Oh, chinnese ya ? (berhubung mata saya sipit banyak yang kirain chinnese)"
G : "Bukan, saya Dayak..."
H : "Oh, pernah makan orang nggak ?"
Oke, itu adalah pertanyaan paling konyol yang pernah kudengar. Pernah makan orang nggak ? Saat itu pengen rasanya jawab, "Ya, pernah, ni baru mau makan orang lagi, orang yang bodohnya sama kayak yang nanya ini..." habis itu siapin bumbu-bumbu. Tapi, dengan diplomatis aku menjawab, "Ya ndak lah !"
Ndak sampai disitu aja, ada aja yang penasaran dengan Kalimantan sampe nanya mantra-mantra, ilmu sakti, ilmu kebal, dukun-dukunan, santet, minta nomor togel yang keluar hari ini... Ternyata di tempat pendidikan yang lumayan maju di negeri ini pun stereotip tentang orang lain masih negatif. Dari info yang kudengar, masih ada orang bodoh yang nanyain gini, bahkan ada yang kira tinggal di pohon atau masih nggak pake pakaian... Miris.
2. Permasalahan Sosial
Waktu itu kami lagi nongkrong dan saling bercanda. Lempar-lemparan piring dan gelas sudah jadi candaan wajib ( Loh ??!! ). Ndak, itu gurau. Jadi waktu itu kami nongkrong aja, ngobrol-ngobrol tentang ujian tadi yang hampir dipastikan dapat menyebabkan kami terjerumus ke kawah Candradimuka ke bawah ( maksudnya nilai C ke bawah ). Tiba-tiba, temanku ngobrolin tentang masalah kenaikan BBM, banjir, jalan rusak, dan ada yang menyeletuk begini, "tempatnya Ares sih enak... aman-aman jak"
Oke, aku jawab... "Oke, kalian bilang kami aman... Bisa dibandingkan jalan rusak di sini dan di Kalimantan mana yang lebih parah ? Kalau di sini jalan rusak langsung diperbaiki besoknya, kalau di sana bertahun-tahun dibiarkan gitu aja nggak ada yang menyentuhnya, di mana letak keamanannya ?... Kalian bilang aman... banjir terus menerus di sana, bahkan lebih parah dari daerah sini... Kalian bilang aman... masalah BBM di sana udah biasa sampe tebus 15 ribu seliter... lah di sini baru naik 2000 perak aja udah ngamuk-ngamuk..."
Semua terdiam. Semua merenungkan masalah ini. Memang kalau dipikir, pembangunan yang tidak merata masih menjadi isu kesenjangan sosial.
Sebenarnya masih banyak yang dialami. Banyak sisi positif yang aku terima semenjak kuliah di luar pulau Kalimantan. Pikiran menjadi terbuka, bisa "studi banding" untuk memajukan daerah sendiri. Walaupun di sini ada yang masih berpikiran sempit tentang orang luar, anggap bahwa dia belum cukup banyak membaca national geographic.
Herp ( H ) : "Halo, nama gue Herp... loe siapa ? ( pake logat Jekate )"
Gue ( G ) : "Halo juga, namaku Ares...(masih mempertahankan logat asli)
H : " Oh, asli mana ?"
G : "Kalimantan Barat..."
H : "Oh, chinnese ya ? (berhubung mata saya sipit banyak yang kirain chinnese)"
G : "Bukan, saya Dayak..."
H : "Oh, pernah makan orang nggak ?"
Oke, itu adalah pertanyaan paling konyol yang pernah kudengar. Pernah makan orang nggak ? Saat itu pengen rasanya jawab, "Ya, pernah, ni baru mau makan orang lagi, orang yang bodohnya sama kayak yang nanya ini..." habis itu siapin bumbu-bumbu. Tapi, dengan diplomatis aku menjawab, "Ya ndak lah !"
Ndak sampai disitu aja, ada aja yang penasaran dengan Kalimantan sampe nanya mantra-mantra, ilmu sakti, ilmu kebal, dukun-dukunan, santet, minta nomor togel yang keluar hari ini... Ternyata di tempat pendidikan yang lumayan maju di negeri ini pun stereotip tentang orang lain masih negatif. Dari info yang kudengar, masih ada orang bodoh yang nanyain gini, bahkan ada yang kira tinggal di pohon atau masih nggak pake pakaian... Miris.
2. Permasalahan Sosial
Waktu itu kami lagi nongkrong dan saling bercanda. Lempar-lemparan piring dan gelas sudah jadi candaan wajib ( Loh ??!! ). Ndak, itu gurau. Jadi waktu itu kami nongkrong aja, ngobrol-ngobrol tentang ujian tadi yang hampir dipastikan dapat menyebabkan kami terjerumus ke kawah Candradimuka ke bawah ( maksudnya nilai C ke bawah ). Tiba-tiba, temanku ngobrolin tentang masalah kenaikan BBM, banjir, jalan rusak, dan ada yang menyeletuk begini, "tempatnya Ares sih enak... aman-aman jak"
Oke, aku jawab... "Oke, kalian bilang kami aman... Bisa dibandingkan jalan rusak di sini dan di Kalimantan mana yang lebih parah ? Kalau di sini jalan rusak langsung diperbaiki besoknya, kalau di sana bertahun-tahun dibiarkan gitu aja nggak ada yang menyentuhnya, di mana letak keamanannya ?... Kalian bilang aman... banjir terus menerus di sana, bahkan lebih parah dari daerah sini... Kalian bilang aman... masalah BBM di sana udah biasa sampe tebus 15 ribu seliter... lah di sini baru naik 2000 perak aja udah ngamuk-ngamuk..."
Semua terdiam. Semua merenungkan masalah ini. Memang kalau dipikir, pembangunan yang tidak merata masih menjadi isu kesenjangan sosial.
Sebenarnya masih banyak yang dialami. Banyak sisi positif yang aku terima semenjak kuliah di luar pulau Kalimantan. Pikiran menjadi terbuka, bisa "studi banding" untuk memajukan daerah sendiri. Walaupun di sini ada yang masih berpikiran sempit tentang orang luar, anggap bahwa dia belum cukup banyak membaca national geographic.
