- Back to Home »
- Cerita Ringan »
- Hah, Drop Out ???!!!
Posted by : suarezsaga
Senin, 13 Januari 2014
Pernah nggak hari pertama kulah Anda mengalami kesialan ? Kadang hal itu terjadi di luar dugaan dan sangat absurd banget. Ada yang ban motornya pecah, ada yang baru putus dari pacarnya, ada yang nggak dikirim uang bulanan, ada yang pergi dugem, mabok, dan ditinggal temannya. Kalau aku kayak cerita di bawah ini ni....
Hari
pertama kuliah aku ingat sekali. Hari Selasa. Tanggalnya lupa. Waktu itu panas
terik pake banget, apalagi di jaman itu ruang kelas untuk prodi Teknik
Informatika belum dipasang teknologi yang bernama ASE itu. Jamnya juga aku
masih ingat, jam tiga sore. Pokoknya hari itu nggak bisa dilupakan sebagai hari
paling sial dan paling lalai sesemester.
Aku
berangkat kuliah dengan feeling nggak enak. Soalnya kuliah sesi terakhir itu
bikin malas. Malas karena udah terlalu sore bikin ngantuk. Sebenarnya waktu
kuliah itu nggak ngaruh sih. Kalo kuliah pagi tetap ngantuk karena kepagian,
kuliah jam 9 tetap ngantuk karena udah lapar dan nggak sempat sarapan karena
bangun tidur langsung capcus, kuliah siang jam 12 tetap ngantuk karena selain
udah kekenyangan habis makan siang ditambah dengan hawa-hawa tidur siang, nah
kalo kuliah sore bikin ngantuk. Serba salah memang. Lanjut. Aku lihat kondisi
di depan kampus udah agak sepi. Banyak yang nggak mau ambil mata kuliah di sesi
terakhir ini. Padahal menurut aku sesi ini paling nyaman. Tidur bisa pulas
sampe siang, kalo lupa kerjakan tugas, masih banyak waktu sebelum jam 3 sore. Lanjut
lagi. Aku langkahkan kaki kurus ini di atas lantai keramik kampus. Nggak lama,
begetar handphone N-GAGE QD peninggalan jaman SMA dulu. Ternyata ada SMS dari
Alan. Dia udah nunggu di lantai 4. Aku cek lagi jadwal, memang di lantai 4.
Semenjak kejadian salah kelas pada awal masuk dulu, aku jadi menderita trauma
untuk masuk ke kelas. Aku harus mengecek dulu biar trauma ini nggak diberi nama
ARESPSIKIS.
Aku
naik pake lift, biar dikira sibuk dan buru-buru. Ruangan 3421. Oke, mata kuliah
Intelegensi Buatan. Dari kampus Ekonomi udah kelihatan kepala Alan yang khas
dengan jambul Samudera Laut Jawa-nya. Dari kampus Ekonomi juga sudah kelihatan
pintu kelasnya. Pintu kelasnya tertutup. Apakah sudah masuk atau belum ? Cek
jam, ternyata belum jam 3. Oke, aman.
Aku
sampai di depan kelas. Ternyata nggak ada orang lain yang nunggu selain Alan.
Agak linglung juga. Aku tanyain Alan, “Belum masuk Lan ?”, Alan jawab, “Ya
belum lah… ini baru jam setengah 3 Res !”. Ternyata terlalu cepat datang ke
kampus nih K.
Kami
tunggu. Tunggu hingga jam 3. Tiba-tiba dari kejauhan ada seorang wanita
berlari. Dia kayaknya telat gitu. Aku kenal wanita ini. Dia sekelompok saat
inisiasi kemarin. Namanya Airin. Aku tanyain ke dia, “Rin, kamu ambil IB juga
?”, trus dia jawab, “Nggak Res, aku ambil SO, tuh kelasnya…” sambil nunjuk
kelas di sebelah ruang 3421. Nah Lho ???!!
Aku
tetap berpikir positif. Siapa tau aja kuliahnya mundur setengah jam. Selagi
nunggu nggak jelas sampai jam setengah 4, dan anehnya nggak ada mahasiswa yang
lain selain aku dan Alan, tiba-tiba Alan melontarkan sebuah ide cemerlang yang
mengalahkan lampu 40 watt. Dia bilang, “ Kita lihat di papan pengumuman aja…”. Damn, kenapa nggak dari tadi ?
Kami
turun ke loby kampus. Melihat-lihat di pengumuman. Hasilnya nggak ada yang
mengatakan bahwa mata kuliah Intelegensi Buatan diundur setengah jam. Mungkin
dosennya sakit, kupikir begitu. Waktu berbalik, ada dosen pengampunya. Nama
dosennya Pak Dwi. Wah, ini kesempatan. Aku hampiri dosen itu.
“Pak,
jadi masuk kuliah pak ?” tanyaku agak di dekatnya.
“Oh,
masuk kuliah apa ya ?” Pak Dwi malah balik nanya.
Aku
makin curiga, ini bakal jadi kabar buruk untuk hari pertama kuliah.
“Intelegensi Buatan pak….”
“Ohhh…
kalian tidak tau ya ?”
“Tidak
tau apa pak ?”
“Kelas
untuk hari Selasa sesi 4 dibatalkan karena tidak mencapai kuota minimal…”
Dang
! Berasa ada yang menampar pake panci nih muka. Sumpah dah, ini benar-benar
buruk. Lalu aku bertanya ke Pak Dwi.
“Pak,
kok nggak ada pemberitahuannya sih ?”
“Lah,
kalian yang kenapa teledor ? Sehari setelah pengisian KRS, selalu ada
pengumuman mata kuliah yang dibatalkan dan mata kuliah yang tetap diadakan…”
Aku
diam dulu. Wah, bisa sia-sia 3 SKS yang aku ambil ni. Aku tanya lagi,”Kami bisa
pindah kelas nggak pak ?”, Beliau jawab,”Bisa… Kalian urus ke wakaprodi ya”. Mantap.
Itulah solusi kami.
Kami-pun
ke kantor Wakaprodi, ketika itu dijabat oleh Pak Wis. Kami ke kantornya dan
mendapatinya lagi baca berita di internet. Dengan semangat 90 kami mengetuk
pintu kantornya. Dia bilang, “Masuk ya…”. Masuk ke kantor Pak Wis dengan
penampilan culun dan sopan biar dikira anak baik-baik.
Pak
Wis memutar kursi putarnya menghadap kami. Kami masih berdiri. Beliau berkata,”
Duduk aja.. Bentar yaa.. ada telepon”.
Setelah
diam selama 5 menit menunggu Pak Wis menyudahi pembicaraannya dengan orang di
telepon, Beliau bertanya ke kami.
“Saya
tau kalian ke sini atas perintah dosen kalian. Untuk semester ini kalian
seharusnya belajar lebih rajin dan tidak main-main. Kalian dikirim ke sini
untuk kuliah.”
Kami
masih diam.
“Jadi,
kalian akan kami evaluasi untuk tetap di sini atau tidak. Bisa dilihat nilai
IPK kalian ?”
Aku
yang dari tadi masih bingung kok malah jadi diceramahi begini ? Di tengah
keadaan bingung, secara spontan aku langsung aja kasih lembar nilai yang pernah
diambil di TU. Pak Wis lihat sejenak nilai itu. Dahinya mengkerut dan
berkata,”IPK kamu masih di atas batas minimal kok…”.
Aku
jadi heran, “ Di atas minimal apa pak ?”
“Minimal
IPK untuk mahasiswa yang akan di-Drop Out”…
Hah
!! Drop Out ! Wew, kok bisa jadinya dikira untuk di drop out. Baru semester 3
aja udah mau di drop out. Aku bertukar pandang ke Alan. Alan juga nampak shock.
Ini diluar dugaan. Kok jadi kami yang di drop out ? Padahal kan kami mau pindah
kelas.
“Begini
pak, kami ke sini untuk mengajukan pindah kelas untuk mata kuliah Intelegensi
Buatan pak…”, Alan coba menjelaskan.
Pak
Wis ngembalikan kertas nilaiku dan berkata,”Ooooohhhh…. Kenapa kalian nggak
bilang dari tadi ? Soalnya saya juga punya janji dengan mahasiswa angkatan atas
yang terancam DO…”.
Kabar
gembira. Hati lega dan kencing jadi lancar. Gila aja baru semester 3 udah mau
di drop out. Kalo aku sampai di drop out, gimana nanti nasib binder, pulpen,
tas, dan software-software berat yang udah terlanjur diinstall ? Gimana nasib
KTM-ku ? Gimana nasib uang SPP-ku ?
Pak
Wis menginstruksikan kami untuk membuat surat permohonan pindah kelas. Untung
aja cepat sadarnya. Kalo nggak bisa-bisa di-DO. Akhirnya surat permohonan itu
dikabulkan dan kami pindah jadwal kuliah ke hari Rabu jam 12 siang. Andai saja
momen itu berlanjut, maka niscaya dapat dipastikan aku dan Alan akan menjadi
gelandangan karena di DO.
