Posted by : suarezsaga Selasa, 17 Juni 2014

Halo guys...
Siang itu hari Paskah, hari Minggu. Aku tidak kemana-mana. Masih bingung dan galau karena untuk kesekian kalinya gagal mendaki gunung Merbabu :(. Alhasil aku di rumah saja dan tidak berniat kemana-mana. Tapi, ketika aku sedang makan di sebuah RM Padang di dekat kontrakan, tiba-tiba Fey menelepon dan ikut makan di RM Padang tersebut.
Selama makan, kami obrolkan planning untuk mengisi waktu luang ini. Aku menyodorkan beberapa gagasan dan beberapa ditolak, seperti main ke Solo, ke Semarang, atau bagpacker-an ke Bali. Semua ditolak. Akhirnya aku menyarankan untuk naik gunung, tapi bukan Merbabu. Gunung itu adalah Gunung Api Purba di Nglanggeran. Dia sepakat. Akhirnya kami pun bersiap-siap naik.
Jalur ke gunung api purba bisa dilihat di peta di bawah ini, sumber peta dari web Gunung Api Purba Nglanggeran (Gunungapipurba.com)
Peta Lokasi wisata gunung nglanggeran

Perjalanan kami tempuh selama 30 menit dari dusun Nologaten, Sleman.  Walaupun waktu tenpuh tidak terlalu lama, tapi bagian bawah lumayan bikin tepos.
Setelah tiba, kami membeli karcis seharga 3000 rupiah ( untuk sekarang sudah naik menjadi Rp 5000 ).
Kamipun mulai mendaki. Tetapi baru berapa langkah kami merasa lelah dan mulai aneh. Aku mulai menyadari. Sebelum kami naik, kami makan nasi padang banyak banget dan alhasil kami kekenyangan dan susah bergerak untuk ke atas.
"Fey, kau mual ndak ?", aku bertanya pada Fey.
"Mual bang... hoeeekkk", jawabnya. Muka kami berdua sudah agak pucat. Padahal aku sudah sering mendaki gunung ini sebelumnya dan tidak pernah merasa mual begini. Ini pasti efek Nasi padang.
Baru sampai ke pos 2 aku sudah tidak mampu. Aku memutuskan untuk istirahat sejenak dan minum air putih yang kami bawa.
Foto di kiri ini adalah foto aku yang lagi istirahat. Hehehe...
Setelah istirahat yang cukup, kami melanjutkan perjalanan untuk mencapai puncak. Setelah melalui rintangan batu, lewati pohon, duduk2 buat mengembalikan tenaga, dan akhirnya sampailah kami dipuncak gunungnya.
Puncak gunung memiliki visi yang luas. Seharusnya beginilah seseorang yang sedang berada di puncak, dia bisa melihat ke seluruh wilayah yang ada di bawahnya dan mensyukuri apa yang sudah dimilikinya dan peduli pada lingkungan yang dilihatnya. Saat ini, banyak orang yang sudah berada di puncak terbuai dan tertidur akan sejuknya udara dan angin yang ditawarkan oleh puncak. Mereka sudah merasa nyaman dan menjadi malas untuk turun dan peduli lagi. 



















Setelah 40 menit menikmati udara dan pemandangan dari atas, kamipun memutuskan turun gunung. Apa yang kami lihat di atas sudah cukup menjadi ajang "cuci mata" karena banyak yang segar-segar. Hahahaha.
Dalam perjalanan turun, kami menemukan sebuah pemandangan yang aneh dan menakjubkan.
Ketika itu kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah tempat peristirahatan yang sudah dibuat. Lagi asik2 duduk dan nyantai, mataku menangkap suatu pemandangan yang aneh. Aku memutuskan untuk melihat semakin dekat. Pemandangan itu bisa dilihat di gambar di bawah ini.
Ya, beliau sedang memotong rumput. Aku agak terheran-heran. Karena yang terlintas pertama dalam pikiranku adalah, bagaimana beliau bisa ada disitu, padahal di bawah adalah jurang yang curam dan dari atas merupakan tebing. Aku dan temanku sempat berdebat tentang ini.
Temanku berpendapat beliau melompat dari atas. Aku langsung membantahnya dan mengatakan, "Tidak mungkinlah, patah kakinya kalo lompat... Kamu lihat saja tingginya segitu...". Dia mengangguk.
Aku berpendapat sepertinya pakai tali dari bawah, tapi tidak ditemukan adanya tali yang menjuntai ke bawah. Kamipun menerka-nerka. Malah temanku mulai berpikir mistis. Dia bertanya, "Jangan-jangan kita aja yang melihatnya... itu manusia apa hantu ?" Aku juga sempat berpikir begitu.
Yang dilingkar merah itu merupakan pelaku yang diceritakan
Kami tetap diam memperhatikan apa yang selanjutnya dilakukan oleh bapak itu. Kami menebak-nebak setelah mendapatkan rumputnya lewat jalur mana yang akan dilalui oleh beliau. Tidak lama kami menunggu jawaban kami akhirnya terjawab. Ternyata beliau MEMANJAT TEBING.





Beliau memanjat tebing dengan tangan kanan memanggul rumput dan tangan kiri memegang celurit. Kami sempat tercengang dan terdiam mengamati beliau apakah berhasil tiba di puncak. Kami mengamati dan sempat merekam video. Berikut videonya.
Sepanjang perjalanan turun kami membahas aksi berani dari Bapak tersebut. Kami menerka-nerka dan aku mulai memahami. Mungkin ini sudah dilakukan beliau selama bertahun-tahun dan mungkin saja sejak beliau masih kecil.
Setelah kami keluar dari lorong sempit yang ada di gunung, kami bertemu dengan beliau sedang merapikan rumput hasil tangkapannya.
Kami menghampiri beliau dan becakap dengan beliau.
"Pak, ini rumputnya buat apa ?", tanya Fey.
"Oh, untuk pakan sapi dan kambing mas...", jawab Beliau.
"Oh, tadi Bapak ambil rumputnya di tebing situ ya ?", aku tanya dengan menunjuk tebing tempat bapak tersebut mengambil rumput.
"Oh iya mas...", jawabnya.
"Wah, kami lihat Bapak memanjat tebing itu tanpa pengaman, berani ya Pak ?", aku tanya lagi.
"Oh, udah biasa mas... Udah sehari-hari gini", jawabnya,"Justru saya takut lihat mahasiswa-mahasiswa yang dibawah itu lo mas", sambungnya.
"Kenapa dengan mereka pak ?", aku tanya balik.
"Lah mereka seluncuran hanya pake tali satu utas terus takutnya talinya putus lo mas. Di bawah itu kan batu-batu...", jawabnya.
Aku menangkap maksud Bapak ini adalah FLYING FOX. Lah, kok bapak ini bisa takut dengan flying fox. Dalam hati ku bekata, "Ya elah Pak, di bawah Bapak itu kan jurang, memangnya di bawah itu ada matras setebal 3 meter pak ???"
Setelah berbincang-bincang, kami tetap membahas keberanian Bapak tersebut diselingi dengan lelucon-lelucon. Aneh juga, kok bisa Bapak itu malah takut sama Flying fox.
Tapi ini mengajarkanku banyak hal. Yang pertama, lakukan hal yang menurutmu pasti dengan berani dan tanpa ragu, seperti yang dilakukan Bapak itu. Yang kedua, selalu berani mengambil resiko berat dan takut pada yang aman, karena zona aman dan nyaman perlahan akan membunuh kita. Yang ketiga, hal luar biasa akan menjadi biasa ketika kita sering melakukannya.
Sekian dulu kisah di Gunung Api Purba Nglanggeran. Nanti kisah berikutnya akan diupdate. Ciao

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Follow me @arezsaga

Iklan Duluuu... Silakan dilihat-lihat

Kicauan saye

Yang terperangkap di blog ini sudah

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

Kontributor

- Copyright © suarezsaga -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -